Ke Museum Gedung Sate, Ada Apa di Sana?


Cerita sebelumnya.......... (ke Rumah Rosid)



Sudah tahukah Anda bahwa di Gedung Sate, terdapat sebuah museum?

Hari Minggu lalu, 3 Februari 2019, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana. Saya penasaran, seperti apakah isinya?

Sebelum ke sana, terlebih dahulu, saya melakukan registrasi melalui http://museumgedungsate.org/userreservasi dan memilih jadwal kedatangan pada pukul 10.30 WIB.



Sebenarnya bisa saja langsung datang, tapi saya tidak tahu. Ya karena di situs resminya ada halaman registrasi, ya sudah, saya registrasi daring (online) saja.

Ternyata benar. Dengan melakukan registrasi daring terlebih dahulu, jalan saya menuju ke sana terasa lebih lapang.

Saat ditanya petugas keamanan pun, saya bisa dengan mudah menjawab, “Saya sudah registrasi online”.



Museum Gedung Sate berlokasi di sisi belakang Gedung Sate. Jika Anda biasa lewat Jalan Surapati (Depan Lapangan Gasibu) dan mendapati bagian depan Gedung Sate, museum ini berada di sisi belakangnya. Pintu masuknya lewat Jalan Banda.

Dari pintu belakang tersebut, saya berjalan lurus, lalu belok kanan. Sebelumnya, dari luar, tampak tulisan “Gedung Sate Bandung” yang sangat besar, terbuat dari tanaman.
“Nanti saya akan berfoto di sana,” pikir saya demikian.

Saat masuk ke ruang resepsionis, saya pun segera memperlihatkan surel (email) konfirmasi pendaftaran masuk museum. Setelah membayar Rp5 ribu, salah satu tangan saya pun segera distempel oleh petugas museum.


Kebetulan, saya datang sendirian. Barangkali kalau bersama rombongan, saya bisa dipandu seorang guide. Pasalnya, rombongan sebelum saya memperoleh seorang pemandu.

Tidak mau rugi, saya pun turut ikut di dekat rombongan tersebut supaya mendapatkan banyak informasi mengenai Museum Gedung Sate.


Secara keseluruhan, tampilan museum ini terbilang cukup atraktif. Tentu saja, kediaman Kang Emil, Je. Jelas baguslah.

Interiornya sangat instagrammable. Masing-masing lorong yang ada tampaknya memang didesain untuk memenuhi hasrat fotografi pemuda-pemudi masa kini.

Padahal jika dilihat dari usianya, gedung tersebut sudah sangat tua. Bahkan dari sebelum berangkat pun, saya sudah membayangkan akan mendapati bangunan tua yang menyeramkan. Eh, ternyata, isinya asik banget.


Kalau ditanya apa kekurangannya, jawaban saya hanya satu. Kurang luas.

Entah karena saking bagusnya apa gimana, tapi rasanya kok kurang puas gitu. Kurang lama. Baru sebentar sudah keluar (dari museum).

Baiklah, memang sudah waktunya keluar. Padahal, belum ada 30 menit saya masuk musem tersebut.


Setelah itu, saya pun berjalan keluar dan mencari tulisan “Gedung Sate Bandung” yang tadi sempat saya lihat.

Singkat cerita, saya berhasil menemukannya. Di sana, saya hanya berfoto-foto sebentar, lalu pergi.


Saya pergi sambil berpikir, “Sekarang masih jam 10.30. Lalu, mau ke mana lagi?”




Komentar