Cerita sebelumnya.... (Mengunjungi Museum Geologi Bandung)
Nama Nyoman Nuarta tentu sudah tidak asing di telinga kita. Tentu saja, itu karena karya beliau sudah pernah kita lihat saat berwisata ke Bali. Ya, GWK. Garuda Wisnu Kencana adalah karya fenomenal yang kini menjadi ikon pariwisata Bali sekaligus merupakan karya besar kebanggan bangsa Indonesia yang sudah mendunia.
Nama Nyoman Nuarta tentu sudah tidak asing di telinga kita. Tentu saja, itu karena karya beliau sudah pernah kita lihat saat berwisata ke Bali. Ya, GWK. Garuda Wisnu Kencana adalah karya fenomenal yang kini menjadi ikon pariwisata Bali sekaligus merupakan karya besar kebanggan bangsa Indonesia yang sudah mendunia.
Hari Minggu yang lalu, 20 Januari 2019, saya pergi ke
galeri NuArt yang terletak di kawasan perumahan Setraduta Raya Bandung. Seperti
biasa, terlebih dahulu saya memesan ojek daring untuk mengantarkan saya ke
lokasi tujuan. Saya cukup cemas, apakah nantinya bisa pulang atau tidak,
mengingat bahwa galeri tersebut berada di Kabupaten Bandung Barat. Ternyata, di
sana juga ada ojek daring, meskipun jumlahnya tidak sebanyak di pusat kota.
Sesampainya di NuArt, suasana cukup sepi. Padahal, hari
itu adalah hari Minggu. Mungkin belum banyak yang tahu, atau mungkin karena
harga tiketnya yang cukup mahal.
Untuk masuk ke sana, setiap pengunjung umum akan dikenai
biaya tiket sebesar Rp50 ribu. Harga tersebut sudah termasuk voucer potongan
diskon Rp25 ribu untuk bersantap di Laxmi Resto yang ada di dalam NuArt
Gallery.
Setelah membayar tiket, saya segera menerima stiker
mungil untuk ditempel di pakaian, serta voucer makan di Laxmi Resto. Awalnya,
saya juga berpikir, “Mahal juga ya, Rp50 ribu. Tidak ada guide-nya lagi. Hmm.... baiklah. Mari kita lihat, bagiamana
isinya,” pikir saya dalam hati.
Pemandangan pertama yang dapat dinikmati pengunjung saat
memasuki lobi utama adalah dua buah patung GWK di sisi kiri dan kanan.
Sementara itu, di bagian tengah, terdapat tangga melingkar dengan desain yang
atraktif.
Saya diberi tahu petugas bahwa rute pertama NuArt adalah
ruang pameran yang berada di lantai 2. Untuk itu, saya pun segera naik
menggunakan tangga melingkar tersebut.
Di lantai 2, saat itu ada pameran fotografi GWK. Di sana,
terdapat ratusan foto bagus, yang merupakan hasil karya para peserta lomba
fotografi tentang GWK. Foto-foto yang dipajang tersebut diambil dari berbagai
sudut yang berbeda, serta pada waktu yang berbeda, yakni: pada pagi, siang,
sore, dan malam. Ada juga foto-foto mengenai proses perakitan dan pemasangan
bagian-bagian patung GWK raksasa yang memiliki total tinggi 271 itu.
Lanjut ke lantai berikutnya, saya mendapati karya-karya
patung berbahan logam yang sangat menakjubkan. Masing-masing dibuat dengan
sangat detail dan tampak begitu nyata.
Ruang pameran tersebut berbentuk agak melingkar. Di
bagian dalam, terdapat dua tangga yang mengantarkan pengunjung ke ruang pameran
lainnya. Di sana, karya-karya logam berukuran besar terpampang di ruangan bawah
tersebut. Saya tidak dapat menggambarkan dengan tulisan betapa menajubkannya
karya-karya tersebut karena memang demikian bagusnya.
Dari ruangan bawah itu, saya pun mengikuti arah pintu
keluar dan sampailah saya di belakang galeri NuArt. Di sana, terdapat taman
dengan panggung rendah berbentuk setengah lingkaran dan air macur di sisi
tengahnya. Karena sudah lapar, saya pun segera berjalan lurus dan menemukan
Laxmi Resto.
Saat itu, saya sudah membawa voucer potongan harga Rp25
ribu. Lumayanlah, batin saya. Sesampainya di sana, ternyata potongan harga
tersebut hanya berlaku untuk jenis makanan tertentu. Kebetulan, harga termurah
dari pilihan makanan tersebut adalah Rp55 ribu (belum termasuk pajak). Baiklah,
saya pilih yang termurah.
Voucer tersebut tidak bisa digunakan untuk minuman. Oke.
Tidak apa-apa. Besok bisa puasa. Haha. Saya pun memilih jus mangga. Harganya
Rp30 ribu (belum termasuk pajak).
Mungkin harga segitu, untuk restoran di lokasi wisata,
termasuk normal. Namun bagi saya yang kasta rendahan begini, tentu terasa
menyakitkan. Ah, sudahlah. Sesekali tidak apa-apa.
Setelah memesan makanan dan minuman, saya pun segera
memilih tempat duduk di teras/balkon restoran yang menghadap ke pepohonan lebat
yang mirip hutan. Sejuk. Bikin suasana adem, meskipun setelah ini kantong jadi
kering.
Tidak lama kemudian, menu pertama yang saya pesan pun
datang. Jus mangga. Tunggu... ini bukan jus mangga. Ini minuman rasa mangga. Ya
sudah, tidak apa-apa.
Beberapa menit kemudian, nasi ayam goreng (pilihan menu
dengan harga terendah) yang saya pesan pun datang. Setelah merasa agak kecewa
dengan minuman rasa mangga tadi, kini saya pun bisa tersenyum. Bagaimana tidak?
Nasi yang disajikan dibuat berbentuk tumpeng kecil. Ayam yang digoreng pun
berukuran cukup besar dan disertai urap-urap kacang panjang. Di samping itu,
masih ada lagi tambahan 3 jenis sambal, yakni sambal bawang, sambal matah, dan
sambal cabe biasa (entah apa namanya, pokoknya enak).
Jujur. Rasanya enak. Hasil gorengannya pas. Renyah. Saya
bahagia. Apalagi dimakannya di balkon dengan semilir angin dingin Kabupaten
Bandung Barat sambil menikmati pemandangan hijau hutan sejauh mata memandang.
Makanan sudah habis. Kini saatnya membayar tagihan ke
kasir restoran.
“Berapa?” tanya saya.
“Totalnya sembilan puluh ribu sekian sekian.”
Saya sudah adem panas.
“Dipotong voucer Rp25 ribu, jadinya tinggal tujuh puluh
ribu sekian-sekian.”
Oke. Kantong sudah bolong. Saatnya pulang.
Saya pun segera beranjak keluar dari restoran dan segera
berjalan menuju pintu keluar area NuArt Sculpture Park untuk memesan ojek
daring. Tidak apa-apa. Kapan-kapan kalau sudah banyak duit, beli makannya milih
menu yang paling mahal. Ahahaaaaaak......des.
Cerita Selanjutnya....... (.... ke Rumah Budaya Rosid)
Cerita Selanjutnya....... (.... ke Rumah Budaya Rosid)









Komentar
Posting Komentar