Cerita sebelumnya........... (..............ke NuArt Gallery)
Sabtu kemarin (26 Januari 2019), guru les bahasa asing saya mengajak saya dan teman-teman pindah lokasi belajar ke Rumah Budaya Rosid. Kata guru saya, suasana di sana tenang. “Pokoknya, kerenlah tempatnya.”
Cerita selanjutnya.....
Sabtu kemarin (26 Januari 2019), guru les bahasa asing saya mengajak saya dan teman-teman pindah lokasi belajar ke Rumah Budaya Rosid. Kata guru saya, suasana di sana tenang. “Pokoknya, kerenlah tempatnya.”
Mendengar kata budaya,
saya pun penasaran, seperti apa sih tempatnya. Kemudian sehari sebelum berangkat, saya
sempatkan untuk Googling terlebih
dahulu. Dari hasil Googling tersebut,
saya menemukan lokasi dengan nuansa tradisional, yang di dalamnya banyak
lukisannya.
Sesampainya di sana, saya pun benar-benar dibuat takjub.
Serius, ini di Kota Bandung? Pikir saya dalam hati.
Suasana tradisonal terasa begitu kental di area Rumah
Budaya Rosid ini. Ketika memasuki gerbang, saya langsung disambut oleh beragam
furnitur tradisional, yang mengingatkan saya akan rumah mbah buyut di masa
lalu.
Di bagian luar, terdapat
meja-meja dan kursi kayu serta berbagai peralatan tradisional berbahan kayu yang
kini sudah semakin jarang digunakan masyarakat modern. Peralatan tersebut
disusun dengan sangat apik sebagai ornamen dinding. Di samping itu, ada juga
beragam peralatan memasak tradisional berbahan tanah liat dan batu yang disusun
berjajar di sepanjang jalan di sekitar bangunan-bangunan rumah budaya tersebut.
Di sisi belakang, terdapat sebuah aula kecil yang kerap
digunakan untuk menggelar acara pertemuan. Kemarin, saya dan teman-teman juga
belajar di aula itu. Sementara di atasnya (di lantai 2), terdapat sebuah
perpustakaan mini yang mengingatkan saya pada film-film di masa lalu. Ada
banyak buku yang sudah tampak usang karena dimakan usia. Ada juga pakaian
tradisional yang tampaknya sudah puluhan tahun tidak dikenakan oleh empunya.
Dari semua yang sudah saya lihat, sebenarnya saya masih
bertanya-tanya: Lalu, di mana lukisannya?
Selesai kami belajar, Bapak Rosid (budayawan pemilik Rumah
Budaya Rosid) datang ke dekat aula yang kami gunakan untuk belajar. (Tampaknya
beliau datang untuk mengecek persiapan acara tunangan karena sebenarnya setelah
itu, lokasi tersebut sudah dipesan orang untuk menggelar acara tunangan).
Saya pun segera memperkenalkan diri. “Nama saya Lina, Pak, dari Tulungagung.”
Bapak Rosid pun menjawab, “Wah, itu yang di depan (ruangan kafe yang disulap dari boks mobil
perusahaan rokok di masa lalu) dari Tulungagung, lo.”............................,
dst.
Singkat cerita, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya pun memohon izin, “Pak,
bolehkah saya berfoto dengan Bapak?”
Sebenarnya, saya masih penasaran dengan foto-foto lukisan
hasil Googling kemarin. Jujur,
saya sangat ingin melihatnya.
“Pak, bolehkah saya melihat lukisan Bapak?” Tanya saya
dengan hati-hati. (Sebab saya tahu, galeri-galeri di Rumah Budaya Rosid ini
tidak atau belum dibuka untuk umum).
“Boleh. Ayo ikut saya.”
Huwaaa... saya ingin melonjak-lonjak kegirangan. (Tapi saya tahan.) :D
Galeri pertama yang ditunjukkan Pak Rosid adalah bangunan
rumah yang berada di sisi depan. Di lantai 1, saya dibuat takjub oleh beragam
lukisan dengan media batu dan kayu yang tampak begitu indah. Semua goresan
pensil Pak Rosid terlihat begitu detail. Ya. Pensil. Pak Rosid melukis dengan
pensil. Pensil warna. Itulah
mengapa, (tanpa saya sadari),
sebagian besar ornamen yang ada di rumah budaya ini berbentuk pensil.
Di lantai 2, saya dan teman-teman diajak untuk
menyaksikan tempat beliau biasa melukis. Di sana, terdapat beberapa lukisan dari
kanvas, batu, dan kayu dengan berbagai ukuran, serta beberapa buku dan majalah
yang memuat hasil karya Pak Rosid. Ternyata, karya Pak Rosid sudah sering
dipamerkan ke luar negeri. Dari majalah teresebut, saya tahu bahwa beliau juga
masuk daftar seniman berpengaruh yang karya-karyanya sudah mendunia.
Seusai berkeliling di galeri tersebut, Pak Rosid mengajak
kami melihat bekas boks mobil yang berada di sisi depan. Ternyata, dahulu boks
tersebut merupakan bagian dari mobil boks Perusahaan Rokok Petjoet Blorong dari
Tulungagung. Sebagai orang Tulungagung, saya merasa terharu. Terharu karena ada
tulisan Tulungagung di Kota Bandung.
:D
Kemudian, kami pun diajak melihat ruang koleksi
lukisan-lukisan terbaru beliau yang berada di depan musala. Di galeri berlantai
dua tersebut, terdapat beberapa lukisan berukuran sangat besar dan hampir semuanya
dibuat dengan guratan pensil. Wow. Saya hanya bisa terdiam, tidak
mampu berkata-kata karena saking terpukaunya dengan karya-karya luar biasa tersebut.
Selanjutnya, kami diajak Pak Rosid melihat guest house yang berada di sisi samping
galeri yang terakhir kami kunjungi tadi. Sebuah rumah sederhana dengan beragam
koleksi barang kuno yang dipadu dengan ornamen instalasi kayu dan lukisan karya
Pak Rosid tersebut sungguh sangat indah. Saya ingin tinggal di situ. Unik sekali
rumah itu.
Akhirnya, perjalanan mengelilingi Rumah Budaya Rosid pun
usai. Tadi, saat diperlihatkan seluruh lukisan, Pak Rosid juga menceritakan kisah di
balik lukisan-lukisan tersebut.
Saya pun sempat bertanya, bagaimana beliau bisa menghasilkan
karya-karya sebagus itu.
Kata beliau, itu semua berkat ketekunan. Sejak SMA,
beliau sudah menekuni bidang seni lukis. Hal tersebut lantas beliau asah hingga
saat ini. Secara tersirat, pesan yang bisa saya tangkap dari beliau adalah jika
kita ingin menjadi ahli dalam bidang yang kita sukai, tekunilah. Kita harus
bisa bertanggung jawab sepenuhnya atas pilihan kita, lalu menekuninya hingga
kita menjadi ahlinya. Selanjutnya, dengan terus berkarya, kita bisa memberikan
manfaat bagi banyak orang.
Itulah secuil kisah kunjungan saya ke Rumah Budaya Rosid
kemarin. Oh iya, di rumah budaya tersebut, juga terdapat kafe yang buka mulai
pukul 15.00 WIB. Jadi, siapa pun bisa datang untuk berkumpul sambil ngopi-ngopi
bareng teman-teman, sembari menikmati indahnya suasana yang artistik di Rumah Budaya Rosid.
Artikel lain terkait Rumah Budaya Rosid (Kumparan)
Instagram Rumah Budaya Rosid: @studio_rosid
Cerita selanjutnya.....











Komentar
Posting Komentar