Museum
Konferensi Asia-Afrika berada tidak jauh dari Masjid Raya atau Alun-alun
Bandung. Dari sisi utara masjid raya, saya hanya perlu menyeberang (menggunakan
jembatan penyeberangan), kemudian berjalan ke arah timur sejauh ±100 meter.
Museum KAA berlokasi di sebelah kiri jalan.
Untuk
memasuki museum tersebut, terlebih dahulu kita harus menemukan sebuah pintu
yang menunjukkan tanda masuk ke museum. Setelah membuka pintu, kita akan
melewati walk through metal detector, kemudian
melakukan registrasi dengan menyebutkan nama dan kota asal kepada resepsionis. Untuk
berkunjung ke Museum KAA, kita tidak akan dikenai biaya alias gratis.
Sejak
naik Bandros, saya sudah diberi tahu bahwa masuk museum KAA gratis. Untuk itu,
saya tidak berani berekspektasi apa pun tentang isi museum tersebut karena
takut kecewa. Biasanya kan yang
gratis-gratis tu... yaa.... gitu deh.
Namun
ternyata, pikiran saya salah. Isinya bagus. Penataan koleksi-koleksinya dibuat
dalam diorama berbentuk lengkung dengan pencahayaan yang tepat sehingga menghasilkan
gambar bagus saat diprotret.
Sebagian
besar isi Museum KAA adalah catatan atau dokumen tentang sejarah, nama negara
dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam Konferensi Asia-Afrika, serta hasil dari
konferensi tersebut. Tentu saja, keberadaan museum ini bisa menjadi salah satu
cara untuk memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Indonesia merupakan
salah satu negara pelopor perdamaian dunia. Semoga saja dengan begitu,
masyarakat Indonesia semakin terpacu untuk senantiasa menebarkan kedamaian.
Nah,
setelah berkeliling ke area utama museum, saya pun menyempatkan diri untuk
mampir ke perpustakaan Museum KAA. Meskipun ukurannya tidak terlalu luas,
perpustakaan tersebut menyediakan fasilitas yang cukup nyaman bagi pengunjung. Di
sana, pengunjung dapat membaca berbagai literatur yang berhubungan dengan KAA,
majalah, dan ensiklopedia dari berbagai negara sambil bersantai di atas karpet
dan bantal besar. Selain itu, ada juga meja dan kursi bermodel unik yang ditempatkan
di sisi tengah.
Saat
saya datang ke sana, perpustakaan tersebut sepi. Entah karena orang-orang memang
hanya ingin melihat koleksi museum, atau karena tidak mengetahui keberadaan
perpustakaan tersebut. Selama sekitar 1 jam berada di sana, saya hanya
mendapati seorang pengunjung yang singgah kurang dari 5 menit.
Keluar
dari perpustakaan, saya melewati lorong-lorong panjang. Akhirnya, sampailah
saya di sebuah aula besar dengan ratusan kursi merah serta deretan bendera dan
gong besar di sisi depannya. Itulah ruang Konferensi Asia-Afrika. Di sanalah
para pendahulu kita dari berbagai negara bersama-sama memperjuangkan perdamaian
di seluruh dunia.
Kemudian,
saya pun merenung. Begitu mudahnya kita berseteru akan hal-hal yang kurang
penting di medsos. Kalau ingat para pendahulu yang mati-matian memperjuangkan
perdamaian, rasanya kok malu sendiri jika hidup ini hanya dihabiskan untuk
menghujat orang di medsos. Lalu, saya pun bertanya-tanya, apa yang sudah saya
lakukan untuk bangsa dan negara, atau untuk kemanusiaan?
Keluar
dari ruang konferensi tersebut, saya masih termenung. Betapa beruntungnya saya
hidup di Indonesia.
Baiklah,
perjalanan masih berlanjut. Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 12.00 WIB.
Waktu check in hotel saya masih kurang
2 jam lagi. Akhirnya, saya pun melanjutkan perjalanan menuju ke Museum Geologi.
Cerita selanjutnya...
Cerita selanjutnya...







Komentar
Posting Komentar